A Pair of Shoes [ONESHOT]

Image

Title
A Pair of Shoes

Author
Yeolswipheu

Cast
Kim Hana (Original Character)
Kim Taehyung (BTS)

Genre
Romance

Length
Oneshot

Disclaimer
The story is mine. Inspired by the song of Tulus “Sepatu”.

Note
Just a story. Enjoy it~

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu

Bagiku..
Kita adalah sepasang sepatu
Kita selalu bersama
Tetapi tak bisa bersatu


Kita mati bagai tak berjiwa

Tetapi bergerak karena kaki manusia

Aku sang sepatu kanan
Dan kau sang sepatu kiri
Aku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kau akan merasa lelah
Aku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kau kedinginan

Kita sadar ingin bersama
Tapi kita tak bisa apa-apa
Akan terasa lengkap bila kita berdua
Tetapi terasa sedih bila kita di rak berbeda

Berada di dekatmu, kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu

Termenung. Gadis itu memandang di sebuah sudut. Awan putih keabu-abuan menjerat menutupi seluruh permukaan langit yang sudah mulai memerah sore itu.  Seperti yang di perkirakan namun tak di harapkan, titikan air hujan yang masih mungil itu mulai satu persatu turun menerpa angin yang tengah berputar-putar di sore itu. Belakangan ini hujan sering turun di kota. Menyebabkan Hana, gadis bersurai cokelat itu, malas berangkat ke sekolah jika bukan karena kegiatan esktra kesukaannya yang selalu diadakan pada sore hari.

Ia mulai mengeluarkan dua buah payung. Satu payung di tangan kirinya berwarna biru muda, dan satu lagi di tangan kanannya berwarna merah. Jika kau bertanya―mengapa ia repot-repot membawa dua buah payung, maka jawabannya ada pada seorang pemuda yang sekarang sedang berlari kecil menerpa gerimis kemudian menghampiri gadis itu.

Hana memberikan satu payungnya yang berwarna biru muda itu dengan sebuah senyum sambutan. Taehyung, pemuda itu segera menyambar payung itu dengan melempar balasan senyum. Bagaikan sepasang anak kecil mereka melakukan sedikit lelucon, dengan hitungan 1 sampai 3, mereka membuka payung itu dengan bersama-sama. Dan yang payungnya pertama terbuka, boleh berlari duluan meninggalkan yang satunya.

 

Dalam permainan konyol ini, Taehyung yang berhasil membuka payung itu paling pertama. Kemudian sesuai perjanjian, Taehyung berlari kecil mendahului Hana yang masih berusaha membuka payung itu. Namun, karena ia yang sudah lelah menanti Hana yang tak kunjung kembali akhirnya ia berbalik arah. Ia menyambar tangan Hana dan menariknya ke bawah naungan payung birunya―membiarkan payung merah Hana berada di genggaman tangan Hana tertutup dengan rapinya.

Begitulah mereka melewati hujan yang semakin deras. Berjalan dengan langkah kecil karena takut akan air hujan yang tergenang kemudian terlewati oleh ban mobil dan mengenai pakaian mereka. Tetapi penderitaan yang menimpa mereka nampaknya akan segera berakhir, karena hujan mulai reda dan dua pasang mata mungil itu menangkap dua rumah berjejeran dengan warna tembok yang berbeda berdiri kokoh tepat di hadapannya.

Hana mengucapkan salam perpisahan seraya menghampiri rumah di depannya dan mulai menjejakkan kakinya masuk ke dalam rumah. Taehyung-pun melambaikan tangannya kemudian menutup payung birunya, kemudian berjalan menghampiri rumah bertembok biru muda yang berdiri tepat di sebelah rumah Hana. Ya, itulah rumahnya, rumah mereka bersebelahan dan hanya dibatasi sebatang pohon mangga besar di antara kedua sisi tembok rumah mereka.

Mereka berdua―Taehyung dan Hana, adalah sepasang sahabat kecil 5 tahun silam sampai sekarang. Tadinya, Taehyung adalah seorang murid baru dan tetangga baru di kompleks Hana. Tak ada yang menyangka mereka bisa bersahabat baik sampai sekarang. Karena…

*Flashback

Hana berjalan menuju kelasnya. Kedua tangannya menggenggam erat cone es krim lengkap dengan isi dan topingnya. Alih-alih bel masuk berbunyi, ia masih berada di depan gerbang sekolah. Memasuki koridor kelas, mata mungilnya mencari-cari papan kelas bertuliskan ‘6-B’

Karena begitu terburu-buru, ia menubruk salah satu murid yang nampaknya juga sedang bingung mencari kelas dan mengakibatkan kedua es krimnya tumpah dan mengotori sedikit bagian depan seragam murid lelaki itu. Seorang murid lelaki, yang menurutnya wajahnya sangat asing.

“Mianhae! Jeongmal.” Kata Hana, ia mengeluarkan banyak kertas tissue dari dalam tasnya dan mencoba membersihkan noda-noda di pakaian anak lelaki itu.

Ya! Kau membuat seragamku kotor. Padahal ini hari pertamaku sekolah disini. Kau mengotorinya, aish bagaimana ini.” Gerutunya. “Aku tak mau tahu, kau harus menjelaskan ke depan semua murid di kelasku nanti.”

Hana mengangkat tinggi-tinggi alisnya―heran akan ucapan murid lelaki barusan. Ia berharap tidak akan satu kelas dengan murid lelaki ini. Karena ia pasti malu sekali kalau ia benar-benar harus menjelaskan bahwa-ia-yang-sudah-menumpahkan es krimnya di baju anak itu.

“Ta.. tapi aku kan sudah minta maaf. Lagipula, nodanya hanya sedikit” sangkal Hana. Ia mencoba membela diri.

Anak lelaki itu hanya menghela napas―jengkel. “Tetap saja, kau harus―”

“Hei, ada apa ini? Hana? Taehyung? Apa yang kalian lakukan disini, bel masuk sudah berbunyi kan? Kajja, Taehyung, ini kelas barumu. Hana, beri salam pada teman barumu.” Kata seseorang tiba-tiba memotong pertengkaran mereka berdua. Dan memberi sedikit informasi bahwa anak lelaki itu bernama Taehyung.

“Ah, arraseo Jung ssaem.” Jawab Hana kemudian mengikuti Jung ssaem yang tengah berjalan memasuki kelasnya. Ia menatap Taehyung takut dan duduk di tempatnya. Nampaknya, Taehyung cukup dan sangat cukup kesal dengan kelakuan Hana tadi. Sekarang, ia sedang memberi sedikit tatapan ngeri spesial untuk Hana. Sedangkan yang merasa ditatap hanya menunduk tak berani menatap balik, menunggu sampai bel istirahat berbunyi.

Hana tak begitu memikirkan masalah tadi, tapi wajah Taehyung yang marah terus terngiang di benaknya dan membuat dia takut. Ia pulang ke rumah dengan sedikit perasaan khawatir kalau-kalau ada seseorang yang mengikutinya sampai rumah dengan wajah mirip Taehyung yang sedang marah. Tapi ia berusaha untuk tidak memikirkan wajah Taehyung. Dan sampailah dia, di depan rumahnya, dengan selamat―tentu saja, karena Taehyung tak mungkin hanya karena semarah itu, dia akan memakan Hana bulat-bulat.

Sekarang, Hana tengah terbaring lelah diatas ranjangnya yang berselimut seprai bermotif bunga forget me not dengan background biru muda itu. Semilir angin meniup-niup gantungan yang berjejer asal di jendela kamarnya. Bunyi gemerincing gantungan burung yang saling bertabrakan memekakan telinga, namun disela itu juga membuat damai suasana rumah yang sepi. Seluruh anggota keluarganya tidak dirumah karena rutinitas mereka untuk mencari uang menuntut tenaga dan menyita waktu. Ingin rasanya, Hana juga bekerja sehingga ia tak perlu sendirian di rumah seperti ini.

Disela waktu yang sudah sering seperti ini―ia bisa berbaring tenang menikmati semilir angin yang menyeruak masuk melalui lubang-lubang ventilasi di kamarnya, bel rumahnya berdering mengagetkannya. Dengan segera―dan sedikit malas ia berdiri tanpa melepas seragamnya dan mengganti bajunya dulu. Ia langsung menghampiri arah suara kemudian membuka pintu utama rumahnya.

“Selamat siang, ada perlu ap―”
“Kau?” kata Hana tergagap melihat siapa yang datang. Seorang anak lelaki berseragam sama dengannya, membawa sebuah kotak kertas yang sepertinya berisi makanan. Hana bisa mencium bau cokelat dari dalamnya.

“Kau juga?” tanya lelaki itu. Hana semakin heran mengapa anak itu balik bertanya sedangkan Hana sendiri bingung mengapa bocah lelaki tengil itu ada di depan pintu rumahnya dengan polosnya. “Ah kalau begitu aku tidak jadi memberikan kue ini kalau kau pemilik rumah ini”

Hana mengernyit bingung. “Hey, kau tak bisa bersikap seperti itu. Lagipula aku bukan pemilik rumah ini. Ibu dan ayahku lah pemilik rumah ini.”

“Tetap saja, kau juga tinggal disini. Sudahlah, aku pergi ya” kata anak lelaki itu seenak-enaknya bicara membuat Hana semakin kesal.

“Kau tetangga baru tapi songong-nya minta ampun ya! Aku juga tidak sudi menerima itu. Pergi sana!” ujar Hana kesal

“Baiklah-baiklah. Aku tidak mau aku kembali ke rumah masih dengan menggenggam kotak ini, dan aku tak mau ibuku memarahiku. Aku hanya kesal dengan perbuatanmu tadi di sekolah, kau sudah mengotori bajuku dengan es krim. Tapi, ini bukan kemauanku tentu saja, ini kemauan ibuku. Ia memintaku untuk memberikan ini pada tetangga sebelah yang tidak tahunya malah kau pemiliknya. Jadi tidak usah banyak bicara dan terima saja ini.” Anak lelaki itu menyerahkan kotak kue itu ke tangan Hana dengan paksa kemudian berlalu.

Hana berdecak kesal menanggapi perlakuan anak itu kepadanya. Bukannya minta maaf malah memarahinya. Dengan jengkel, ia meletakkan kotak itu ke dalam lemari esnya dengan sedikit bantingan.

Permulaan yang tidak menyenangkan untuk Hana. Bertemu seorang lelaki yang begitu pemarah dan tidak pemaaf, membuat Hana begitu dongkol dan ia menganggap hari-harinya di sekolah menjadi tidak menyenangkan. Setiap kali bertemu Hana, pastilah anak lelaki itu menyindirnya dengan ejekan-ejekan yang tida enak di dengar―lagipula memang tak ada ejekan yang ena di dengar kan? Ini sudah tahun ke-enamnya di sekolah dasar. Tidak terasa sebentar lagi ia akan lulus, tapi masih saja anak lelaki itu bersikap menjengkelkan. Sampai suatu saat kembali terjadi hal yang membuat ia samakin dan lebih semakin dongkol terhadap anak lelaki itu.

Ketika pelaksanaan kebersihan seluruh kelas, Hana sedang menenteng seember air sabun untuk mengepel kelas. Tapi dari sisi lain, Taehyung sedang terburu-buru dan dengan tidak sengaja menabrak Hana yang membawa ember. Alhasil, semua air itu tumpah ke pakaian Hana membuat Hana kesal. Sudah sedikit kesal, seperti biasa, bukannya minta maaf, Taehyung malah melempar kata-kata yang tidak enak.

“Kau ini bagaimana sih? Bawa ember segitu saja tidak bisa. Rasakan saja deh akibatnya, basah semua kan? Huh, menyebalkan” katanya tanpa berdosa. Ia kemudian pergi meninggalkan Hana yang menjadi bahan tontonan.

Hana semakin geram. Air matanya menetes perlahan, ia berlari meninggalkan ember itu. Ia kembali ke rumah tanpa membawa tas dan perlengkapan sekolahnya. Ahreum dan Junhee―sahabat dekatnya, mereka yang mengantar barang-barang Hana ke rumah.

Keesokannya saat istirahat di sekolah, Hana tak bicara sama sekali. Ahreum dan Junhee mencoba bertanya tapi tetap saja Hana tidak menjawab. Akhirnya mereka menyerah dan cuek saja terhadap sikap Hana. Mereka tahu, Hana masih kesal dengan perlakuan Taehyung. Makanya, mereka berdua menghampiri Taehyung setelah seluruh pelajaran selesai.

“Taehyung-ssi!” panggil Ahreum dan Junhee. Taehyung hanya menengok melihat siapa yang memanggilnya. “Kau seharusnya minta maaf kepada Hana, kan? Kau sudah sering membuat Hana merasa bersalah, sekarang harusnya kau yang merasa bersalah. Minta maaflah” lanjutnya.

Taehyung mengernyitkan dahinya heran. “Kenapa harus aku? Harusnya dia kan yang minta maaf?”

“Kau mungkin tidak tahu betapa sakitnya Hana, Taehyung-ssi.” Kata Ahreum lebay. “Dia sampai tidak mau bicara, bahkan kepada kami―sahabat terbaiknya. Bagaimana kalau dia tidak mau makan juga? Dia bisa mati, kau mau di penjara?” lanjut Junhee.

Taehyung mulai menundukkan kepalanya. Ia baru merasa sedikit bersalah sekarang. Apalagi, keesokan harinya, Hana tidak datang ke sekolah. Akhirnya ia mengajukan diri kepada ketua kelas untuk mewakili kelas dan mengantar catatan pelajaran ke rumah Hana dengan alas an kebetulan rumahnya yang paling dekat dengan rumah Hana.

Taehyung melangkahkan kakinya memasuki rumah Hana dengan ragu. Kemudia ia mulai menekan bel rumah Hana. Ia tahu, hanya Hana yang berada di rumah. Karena setiap hari, kedua orang tua Hana dan kakaknya akan pulang malam.

KREK…

Seorang gadis yang tak sing di mata Taehyung membuka pintu besar yang bercat cokelat tua itu. Kemudian mata mungil gadis itu membelalak kaget melihat kedatangan Taehyung.

“Ada perlu apa?” tanya Hana, gadis yang membuka pintu itu tanpa memandang Taehyung.

“Ini. Aku bawakan catatan untukmu. Kau sakit?” tanya Taehyung masih sok cuek.

Hana terdiam. “Terima kasih” ia merebut buku catatan itu dari Taehyung kemudian saat akan menutup pintu rumah itu, Taehyung menahannya.

“Hana, maafkan aku!” serunya seraya menunduk malu. Hana yang sedang unmood tiba-tiba saja terkekeh pelan melihat Taehyung yang meminta maaf dengan sangat lucu di depannya.

“Mmm.. kau bilang apa? Bisa ucapkan sekali lagi dengan jelas?” kata Hana sedikit meledek.

Taehyung cemberut. “Tadi aku sudah bilang cukup keras, bukan?” kata Taehyung gengsi.

“Baiklah. Tapi kau harus janji satu hal.” Pinta Hana. Taehyung menatap Hana penasaran. “Kau jangan menyindir atau mengejekku di depan anak-anak. Kau juga harus minta maaf padaku kalau kau salah. Kau harus berkaca sekali-kali Taehyung-ssi.” Jelas Hana.

“Oy oy, itu bukan satu hal. Itu banyak hal, kau mengerti?”

“Sudahlah, berjanji saja padaku atau kau tak aku maafkan.”

“Ah baiklah, aku berjanji” katanya. Kemudaian mereka saling menautkan kelingkingnya hingga akhirnya akur satu sama lain.

*Flashback end

Seoul
06.00 AM

Gumpalan awan hitam lagi-lagi menyambut pagi. Menghapus rintikan semangat yang sebelumnya membara dalam jiwa dan menciptakan kesan sendunya pada pagi hari. Kendati beberapa organ tubuhnya sangat sulit untuk diajak kompromi, gadis ini tetap memaksakannya. Ia beranjak dari tempat tidurnya, meregangkan otot-otot yang telah cukup lama tak bekerja sepanjang tidurnya. Tak ada setitik cahaya-pun yang menyeruak masuk melewati ventilasi-ventilasi mungil di kamarnya.

Alih-alih merasakan hangatnya cahaya matahari pagi, terpaksa ia sarapan dan duduk diam di depan perapian rumah untuk mendapatkan sedikit kehangatan―tepatnya karena pagi ini begitu dingin dan ia membutuhkan kehangatan agar tubuhnya sedikit memanas. Ia tak mau membeku sampai di sekolah―walaupun ia tahu, pemikiran ini begitu berlebihan.

Setelah ia selesai memutuskan bahwa semuanya sudah lengkap, ia bergegas pergi menuju tempat wajibnya setiap pagi―sekolah. Dengan hanya berbekal tas sekolah dan payung merah kesayangannya, ia sudah merasa percaya diri untuk berjalan ke sekolah. Namun lain dengan hal saat ini, ia merasakan sebuah kejanggalan kecil yang terus memutari pikirannya. Tanpa pikir panjang ia segera memeriksa barang bawaannya. Dan benar saja, seperti yang tak diharapkan. Ia hanya menghela napas, kegelisahannya akan waktu terus saja berkecimpung dengan bagaimana caranya ia pulang ke rumah secepat kilat untuk mengambil pekerjaan rumahnya yang tertinggal.

“Aku tak mungkin mengambilnya..” katanya memutuskan begitu cepat dan segera melangkahkan kakinya kecil-kecil melompati genangan-genangan air hujan sisa kemarin sore.

Ia bisa menanggung akibatnya sendiri. Tugas yang tak ia bawa dan keterlambatannya membuat ia di jemur di lapangan yang mendung. Hukuman pertama dan terakhirnya setelah sekian lama ia akan meninggalkan sekolahnya. Ini tahun ketiganya di sekolah menengah atas, tahun dimana ia akan belajar dengan keras untuk mendapatkan title “Pelajar yang Berhasil Lulus dengan Nilai Terbaik”.

Ia cukup senang karena tidak harus berkecimpung ke dalam soal-soal yang diberikan oleh Han ssaem, soal untuk menghadapi ujian kelulusan. Ia menghapus peluh di dahinya. Kemudian senyumnya mengembang ketika melihat Taehyung sedang terduduk di lapangan bola menikmati mendungnya suasana. Hana berlari menghampiri pemuda itu.

Tanpa sepengetahuan Hana, Taehyung sedang berpikir sesuatu. Ia tahu dirinya akan lulus sebentar lagi dan ia menyimpan begitu banyak perasaan kepada Hana setelah sekian tahun lamanya. Tapi ia memendamnya karena ia tahu Hana sangat ingin mendapat nilai terbaik di kelas―bahkan kalau bisa satu sekolah. Jadi, ia tak ingin merusuh niat Hana. Namun disisi lain, ia sangat ingin mengungkapannya secara langsung. Tapi apa daya, ia harus menunggu.

“Kau membolos lagi ya, Taehyung-ah?” seru Hana seraya duduk di sebelah Taehyung yang terlihat memikirkan sesuatu.

Taehyung menoleh. “Seperti yang kau lihat.” Katanya. “Ah, aku malas ikut pelajaran Han ssaem.”

Hana tertawa.

“Lalu? Apa yang kau lakukan? Tak biasanya kau membolos.” Tanya Taehyung.

“Aku dihukum.” Jawab Hana―membuat Taehyung membelalakan matanya lebar-lebar. Tak menyangka akan apa yang terjadi. Hana yang selalu rajin dan tak pernah dihukum tiba-tiba saja dijemur di lapangan sekolah. Ckckck

“Kau? Kim Hana?”

PLAK
Hana menampar pelan pipi Taehyung. “Tentu saja. Kau tidak bermimpi, kok. Sakit, bukan?”

“Tentu saja sakit sekali. Tamparanmu benar-benar.. ah membuatku ketagihan.” Kata Taehyung sedikit melawak tapi tidak membuat Hana cukup untuk tertawa. “Ngomong-ngomong. Ayo kita fokus untuk ujian, Hana-ya”

Hana terdiam sejenak melihat Taehyung. Sekarang ia yang keheranan karena biasanya Taehyung yang cuek, malah mendadak rajin. Sebenarnya ada apa dengan dunia ini? Ia merasa aneh.

“Karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu di prom nanti setelah kelulusan. Sebenarnya ingin ku katakana sekarang tapi.. kau tahu kita sedang menghadapi hal yang menegangkan.” Jelas Taehyung.

“Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu. Tapi, sama halnya yang ku khawatirkan. Jadi, ayo kita berlomba di ujian nanti. Siapa yang mendapat nilai lebih besar, akan mengatakannya duluan. Setuju?”

Taehyung tersenyum penuh makna. “Setuju!”

Hana terdiam sejenak. “Tapi, apakah kau sudah mengajak seseorang untuk pergi ke prom?” tanya Hana antusias.

Taehyung tertawa. Ia berpikir, apakah ini kode dari Hana? Hahaha, segera saja ia meledek Hana. “Ya, aku ingin mengajak orang itu. Tapi aku tak tahu apakah ia sudah mempuanyai pasangan prom atau belum. Hmm.. aku harus bagaimana ya?”

“Benarkah? Memangnya siapa orang itu?” tanya Hana lagi. Raut mukanya sedikit jengkel. Taehyung sudah tidak tahan melihat ekspresi Hana. Ia ingin terbahak dan tertawa berguling-guling di rerumputan.

“Karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tentu saja kau yang akan kuajak.” Jawab Taehyung membuat Hana terdiam namun akhirnya menerimanya juga.

Hana tidak terlalu belajar dengan keras karena ia tidak ingin mengungkapkannya terlebih dahulu tentang perasaannya. Ia malu tentu saja, karena ia seorang perempuan. Tapi, hasilnya malah terbalik. Akhirnya setelah penantian yang cukup panjang, ia lulus dengan nilai lebih tinggi dari Taehyung. Ia tersenyum, memandang dirinya di cermin. Namun ragu, ia harus mengungkapkan perasaannya malam ini.

Ia berputar sekali, kemudian menatap lekat-lekat tubuhnya dari atas sampai bawah di depan cerminnya yang lebar. Dress se-lutut berwarna pink pastel yang ia kenakan ditambah bandana kecil yang tertempel diatasnya bunga-bunga berwarna senada dengan dressnya. Ketika sudah menarik napas panjang dan yakin itu penampilan terbaiknya, ia mengenakan flat shoes-nya dan membukakan pintu untuk orang yang sudah menunggunya. Orang yang juga ditunggu-tunggu dari beberapa tahun lamanya.

“Ayo kita pergi.” Taehyung menggandeng Hana. Mereka-pun pergi ke promnite terakhirnya. Hana cukup percaya diri saat baru memasuki prom, tapi kemudian menciut ketika acara tersebut selesai. Ia harus menumpahkan seluruh isi hatinya kepada Taahyung hanya dalam beberapa kata―singkat namun bermakna.

Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah yang di pinggir-pinggir temboknya dihias berbagai wallpaper lucu kenang-kenangan dari anak kelas 3 angkatan mereka yang sekarang sudah resmi lulus. Disana, Hana menempelkan gambar sepasang sepatu, dan Taehyung menempelkan sepasang gambar payung berwarna merah dan biru. Dan sekarang, Hana sudah melepas sepasang flat shoes-nya dan menentengnya.

Mereka saling terdiam kemudian saling terlarut dalam suasana hening, mereka berhenti di dekat sebuah bangku taman sekolah. Taehyung menatap Hana.
“Kau bilang, akan mengatakan sesuatu?” tanyanya.

Hana mengangguk ragu, namun akhirnya mantap. “Aku…” katanya. Namun Taehyung tetap menunggu sampai akhirnya Hana melanjutkan lagi. “Karena aku yang mendapat nilai lebih tinggi, aku akan memberitahumu satu hal. Ng.. maafkan aku, jeongmal, sebenarnya sudah lama aku..”

Lagi-lagi terhenti. Kemudian sepersekian detik, mereka tak saling bicara. Hana mencoba mengumpulkan keberaninannya.

“Aku menyukaimu Kim Taehyung.”

Taehyung mendongak melihat wajah Hana yang kemerahan. Tapi kemudian, akhirnya ia tersenyum. “Kau tahu, aku juga ingin mengatakan sesuatu, kan?” tanya Taehyung. Hana hanya mengangguk. “Tadinya, aku akan bilang aku juga menyukaimu Kim Hana. Tapi aku tidak jadi mengatakannya kepadamu deh.”

Hana tersentak. “Kenapa?”

“Karena kata-kata itu akan berubah menjadi…” Taehyung berhenti. Ia terkekeh seraya melirik Hana yang begitu penasaran.

“Menjadi apa? Menjadi kodok? Kau saja sana, jadi kodok.” Kata Hana kesal karena Tehyung terus menunda-nunda.

“Menjadi…” potong Taehyung lagi. “Aku menyayangimu Kim Hana.” Katanya seraya tersenyum simpul membuat Hana semakin tersipu-sipu. Melihat Hana yang malu, Taehyung menjadi jahil seketika. Ia mengangkat Hana dan menggendongnya membawanya pergi dari taman.

Kemudian bulan-pun tersenyum melihat tingkahnya―tingkah kedua bocah itu. Hana memberikan sepatunya kepada Taehyung.
“Untuk apa? Ini kan sepatu perempuan.”

“Aku sudah mencucinya. Kau letakkan ini sebagai hiasan saja” jawab Hana.

Taehyung mengernyit bingung. “Kenapa begitu?” kemudian Hana tersenyum penuh arti.

“Karena kita adalah sepasang sepatu yang tak bisa di lepaskan.”

―THE END―

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s