Hana Kim Hyeongsa [CHAPTER 1]

hanakimhyeongsa

#Dokumen 1 “AIR KERUH”

Title
Hana Kim Hyeongsa

Author
Yeolswipheu

Main Cast
Kim Hana (OC)
Yuki Kashiwagi (AKB48)
Park Chanyeol (EXO)

Other Cast
Ana Iriyama (AKB48)
Wu Yifan (EXO)
Xiumin (EXO)
SNSD
EXO
SM Artist

Genre
Mystery, Friendship, Case, Detective

Length
Chaptered

Note
Inspired by Detective Conan (Aoyama Gosho) & Sherlock Holmes (Sir Arthur Conan Doyle). A kind of adaptations..maybe/?
I hope you guys like it~

Knightsbridge, London, Inggris
06.45 AM

Namaku Kashiwagi Yuki. Aku tinggal di jepang sejak kecil. Namun, aku mengikuti pertukaran pelajar ke University College London tahun lalu saat aku sudah menjalani kuliahku selama dua tahun di University of Tokyo. Tadinya program tersebut hanya berlaku lima bulan, namun mereka memberikan penawaran yang cukup memuaskan. Karena kami―kedua pelajar yang mengikutinya saling menikmati program tersebut, makanya kami bisa bertukar secara permanen. Kesimpulannya, aku akan tinggal di London selama yang aku mau―atau bahkan selamanya.

Tentu saja aku betah disini. Mereka menyediakan tempat tinggal yang cukup elit dengan gratis. Hanya saja, biaya makan dan yang lainnya, aku harus membayarnya sendiri. Namun, aku tidak terlalu terbebani dengan semua itu karena aku yang ‘di cap’ sebagai siswa berprestasi di kampus, mendapat beasiswa yang cukup besar untuk biaya sekolah. Maka dari itu, aku bisa menjalani hidupku dengan baik di sebuah Negara besar yang bahkan aku belum pernah singgahi sebelumnya. Apalagi, aku mempunyai seorang bibi yang tinggal di London. Bibi Rosetha. Ia tinggal di Baker Street no. 27IB dan dia bersedia membantu jika aku menemui kesulitan.

Teman-temanku disini sebagian besar juga tidak berasal dari London, banyak yang berasal dari Asia seperti Korea, Jepang, China dan masih banyak. Kebetulan tiga teman dekatku yang sangat dekat berasal dari beberapa Negara. Yang pertama Ana Iriyama, ia juga dari Jepang sama sepertiku, bedanya ia dari Osaka dan aku dari Tokyo. Lalu yang kedua adalah Xiumin. Ia dari China tapi ia bersekolah di University College London sejak awal dan bukan seorang pelajar pertukaran. Yang terakhir juga dari China. Namanya Wu Yifan. Tapi ia dulu pertukaran pelajar angkatanku yang berasal dari Kanada. Teman-teman tidak ada yang memanggilnya Yifan karena ia meminta semua orang untuk memanggilnya dengan Kris. Karena katanya, itu nama Internasionalnya.

Nah pagi ini, aku terbangun dengan terburu-buru karena aku bangun sedikit terlambat. Walaupun sedikit, tapi hal itu akan mempengaruhi segalanya. Jadi, kuputuskan untuk tidak sarapan dan langsung pergi ke kampus. Sedangkan pagi ini, sekolah mengadakan upacara penerimaan mahasiswa baru di auditorium sekolah. Aku tak tahan karena perutku terus berbunyi, jadi kuputuskan untuk sarapan di ruang kesehatan sekolah.

Kebetulan, yang merawatku adalah anak jurusan kedokteran yang baru masuk tahun lalu, namanya Rebecca. Ia orang amerika yang populer di sekolah ini. Ia punya rambut coklat sepinggang, dengan hidungnya yang mancung dan pipinya yang tirus membuatnya terlihat elegan. Ditambah badannya yang proporsional dan tinggi. Apalagi cara menatapnya dengan tatapan waspada dan mantap, membuat ia menjadi orang yang begitu menarik. Otaknya cemerlang sekali, dia juga salah satu orang yang pandai bicara―dengan kata lain, cerewet.

Ia membawakanku sekotak susu dan satu piring toast bread dengan selai kacang diatasnya yang masih terlihat hangat karena ada sedikit asap mengepul di atasnya.

“Apa kau baru saja memanggangnya?” tanyaku lalu melahap toast bread tersebut. Becca menghampiriku dan duduk di kursi di sebelah ranjangku. “Enak ya bertugas disini. Kau tidak harus mengikuti acara-acara yang berbelit seperti upacara penerimaan pagi ini.”

“Kau tak tahu rasanya. Memang yang kau tangkap hanya hal yang menyenangkan saja Yuki. Tapi, kau harus tahu beberpa hal bahwa kami, disini, harus melayani penyakit yang terkadang aneh. Bahkan, penyakit ayan-pun harus kami yang menangani.” Jelasnya panjang lebar. “Oh iya, kemarin sore ada seorang anak dari jurusan seni rupa. Dia aneh sekali. Dia bilang, dia pusing kepala. Lalu sudah kuberi makanan dan obat, setelah itu dia meminta izin pergi ke toilet. Namun ia tak kunjung kembali setelah 30 menit berlalu. Aku yang cemas melapor pada petugas sekolah. Mmm, dia juga meninggalkan tasnya disini. Kalau tidak salah, namanya Marvon Lambeth. Oh! Dia juga tinggal di dekat apartemenmu di Knightsbridge.”

“Ah!” pekikku karena ia membicarakan apartemen dan mengingatkanku yang belakangan ini memang sedang mencari apartemen baru. “Bicara tentang tempat tinggal. Apakah kau tahu apartemen yang bagus dan tak terlalu mahal di sekitar London?”

Becca terlihat sedikit berpikir. Namun akhirnya ia memuka mulut. “Ada… mm dan kau mirip dengan temanku. Kemarin sore, dia bilang ingin mencari apartemen baru di dekat sekolah yang cukup murah. Kalau harus berbagi dengan teman-pun ia tak masalah.”

“Oh ya? Siapa?”

“Sahabat dekatku. Hana. Kim Hana, dia anak Desain. Kalau kau mau, aku bisa mempertemukan kalian.”

Akhirnya, aku dan Becca membuat janji tepat setelah jam makan siang karena hanya pada jam itulah Becca mempunyai waktu luang karena kebetulan waktu jaga ruang kesehatannya sudah selesai. Dan juga, Hana sudah sepakat menunggu kami di laboratorium milik anak Sains karena ada yang di kerjakannya. Dan itu artinya, kami berdua yang harus menemuinya.

“Hana itu orangnya nekat.” Sela Becca. Kami berjalan menyusuri koridor menuju laboratorium Sains. “Dia sering membuat percobaan-percobaan aneh.. tapi menguntungkan. Contohnya, pupuk. Saat itu pernah jadi tren di apartemennya, sejenis tanaman yang di tanam di pot gantung, aku tak tahu namanya. Tapi, dalam beberapa hari tanaman tersebut layu semua. Akhirnya, Hana membuat pupuk tanaman yang sangat bau dan ew.. menjijikan bentuknya. Tapi, berkat pupuknya itu, tanaman-tanaman itu tumbuh dengan baik. Nah, masalahnya ia nekat sampai mengetest percobaannya di kamar tetangganya dengan diam-diam sampai tetangganya itu sakit beberapa hari, bukan karena niat jahat, tapi sekedar ingin mengetahui pupuknya berefek atau tidak.”

“Intinya dia terlalu bernafsu untuk mengetahui exact-nya?” tanyaku memastikan.

“Yaa, bisa bisa”

Kemudian, kami telah sampai di Lab. Kimia milik anak Sains. “Kita sudah tiba, Yuki. Kau bisa menentukan sendiri bagaimana kesanmu saat mengetahui sikapnya.”

Kami masuk ke dalam dan sunyi. Hanya ada seorang gadis dengan kaos rajut panjang berwarna putih dengan rok diatas lutut berwarna hitam dan bergelombang. Ia mengenakan topi hitam yang biasa dipakai oleh pelukis. Gadis itu tengah sibuk dengan pekerjaannya. Laboratorium itu penuh sesak oleh botol, baik yang berjajar rapi maupun yang tergeletak sembarangan. Meja-meja rendah dan lebar bertebaran. Dipenuhi oleh tabung uji serta Bunsen Burner kecil dengan api biru yang menari-nari.

Mendengar suara langkah kami, orang itu berpaling dan menegakkan tubuh sambil berteriak gembira.

“Yay! Berhasil! Aku berhasil!” teriaknya sambil berlari mendekati kami dengan membawa sebuah jarum suntik berukuran mini. “Aku sudah menemukan reagen yang hanya bereaksi oleh mikroba dan tidak oleh zat lain.”

Dan sepertinya tidak ada hal yang lebih membahagiakan seandainya itu yang dia temukan adalah se-koper uang, sepertinya ekspresinya tidak akan sebahagia ini.

“Hana, ini Yuki Kashiwagi.” Becca memperkenalkan kami berdua.

“Apa kabar?” sapa Hana riang, menjabat tanganku kuat-kuat. “Kau pertukaran pelajar dari Jepang ya? Dan kau berada di program studi Arsitektur dan Pembangunan.”

“Darimana kau tahu?” tanyaku terkejut.

“Itu tidak penting.” Tukasnya, tergelak sendiri. “Yang lebih penting adalah penemuan tentang mikroba ini. Kau tentu memahami arti pentingnya bagi umat manusia, bukan?”

“Memang menarik, dalam bidang kimia tapi―”
“Tapi aku tak melihat kegunaannya dalam kehidupan sehari-ha―”

“Ya ampun! Masa kau tak mengerti? Ini penemuan yang paling praktis yang pernah ada. Scotland Yard kemarin mencari solusi akan kasus air kotor belakangan ini di London. Beberapa profesor membicarakan ini karena tercemar mikroba baru yang telah berkembang. Ia mengunjungi berbagai Universitas di London, mencari professor dan mahasiswa yang bisa mencari penangkal dan obatnya namun belum ada yang bisa mengonfirmasikannya. Dan berita bagusnya, kau tak perlu pindah apartemen karena air yang keruh dan bau itu kan.”

Aku membelalak. “Darimana kau tahu air di apartemenku..”

“Nah, itu menguntungkan bukan? Jadi, aku sendiri juga tak perlu pindah apartemen.”

Becca terlihat tidak terkejut dengan apa yang di ungkapkan Hana. “Jadi, itu masalahnya? Air di apartemenmu keruh. Kau tidak baca berita harian ya? Beberapa kota di London kan tercemar bakteri yang Hana bicarakan, Yuki.” Katanya.

Aku tertawa malu. “Yah, jadi keuntungannya selain air menjadi bersih kembali, apa itu?” tanyaku.

Hana tertawa. “Ha! Ha! Aku bisa meraih upah yang cukup besar, yang cukup untuk mendirikan Lab. mini di apartemen. Atau kalau tidak, aku akan membeli rumah terlebih dahulu. Kau tahu kan, kalau aku berhasil, upahku seharusnya besar karena seluruh London terkena air keruh. Dan kalau tidak ada solusi sepertiku, bagaimana jadinya?”

Orang ini memang pintar, tapi sombongnya-pun tak kalah dari kepintarannya. Namun aku juga kagum karena pemikirannya. Akhirnya kami tidak jadi melihat-lihat apartemen di sekitar London, malah-malah mengantarkan Hana ke Scotland Yard.

Tak kusangka. Tesnya berhasil dan besok uangnya akan di kirim ke rekening Hana. Tidak tanggung-tanggung, menteri kesehatan memberi sebuah penghargaan terhadap Universitas kami. Merasa sedikit tertolong karena aku dan Becca mengantarnya, Hana mentraktir kami berbagai makanan dan membawanya ke apartemenku.

Dengan bawaan yang sedikit banyak―dan sepertinya makanan ini akan mubadzir makanya kami mengajak beberapa teman dari sekolah.

“Siapa yang akan kita ajak?” tanyaku.

“Ah, Chanyeol dan Kris terlihat luang.” Becca mengajak kami ke tempat Chanyeol dan Kris yang sedang berbaring santai di bawah pohon rindang di taman sekolah.

“Kalian luang, kan? Ikutlah bermain ke apartemen Yuki.” Ajak Becca. Tapi keduanya terlihat malas dan malah menutupi mukanya dengan jaket. “Ada banyak makanan. Dan juga… Hana ikut”

Chanyeol berdiri semangat. “Aku ikut aku ikut.” Serunya.

“Kris, kau tak tertarik?” tanyaku. “Aku baru beli novel misteri terbaru lho!” seruku. Kris yang sangat senang dengan novel misteri langsung bangun menyusul Chanyeol. Gayanya sangat tengik, ia sok berperilaku seperti detektif padahal otaknya sangat dangkal kalau ku bandingkan dengan Hana.

Kebetulan juga, Chanyeol kabarnya menyukai Hana. Namun, Hana cuek dengan hal-hal seperti itu. Ia lebih mementingkan hal-hal kimia dan kasus kasus kejahatan yang ada di sekitaran Inggris. Katanya, itu mendebarkan. Dan sekarang Hana sedang terdiam memakan es krimnya.

Akhirnya kami pergi ke apartemenku. Di gerbang, kami bertemu Xiumin yang hendak pulang. Ia bilang hari ini menganggur dan ingin mencari kegiatan. Akhirnya, ku ajak dia ke apartemenku walaupun kegiatan kami tak lebih dari merumpi dan―tentunya makan.

Kami sampai di Knightsbridge sekitar jam 5 sore dan segera memasuki apartemenku yang tak begitu besar dengan papan di pintu bertuliskan 306. Teman-temanku agak heran karena sempainya disana tetanggaku yang seorang ibu rumah tangga yang tinggal di apartemen no. 307 sedang ribut dengan suaminya. Ya sebenarnya itu sudah terlihat dan terdengar biasa bagiku. Tapi, entahlah, sepertinya ini cukup mengganggu teman-temanku.

“Wah apartemen ini bagus ya. Apa aku pindah saja ya, sepertinya lebih baik kalau―” ucapan Hana terpotong oleh suara teriakkan yang kuyakin itu adalah suara Ibu yang sedang bertengkar itu.

“KYAAAAAAAA!!”

Kami semua bergegas berlari ke rumah sebelah. Dan yang kami temukan adalah….

―To Be Continued―

Advertisements

11 thoughts on “Hana Kim Hyeongsa [CHAPTER 1]

  1. Haha belum baca, baru nge add like doang! Baru dikenalin sama Ilo. Baru baca paragrap pertama gw pikir ttg diri lu. Tapi bahasa lu lincah! Asik. Ntar gw reread lg.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s