The Plagues of The Mythology [CHAPTER 3]

Image

Title
The Plagues of The Mythology

Author
Yeolswipheu

Main Cast
Park Chanyeol
Yoo Ahra
Wu Yifan (Kris)

All Cast
Sandara Park
Jung Soojung
Ham Eunjung
Park Jiyeon
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
Kim Jongin

Genre
Mystery, Friendship, Romance

Length
Chaptered

Note :
Just a story. Enjoy it!~

 

Berjuta-juta tahun

Berjuta-juta pulau

Berjuta-juta jiwa

Berjuta-juta keringat terteteskan hanya untuk satu tujuan

 

-o0o-

 

Barangsiapa yang memiliki Ruby Abadi akan selalu diikuti kemana-pun ia pergi atau saja lewat mimpi-mimpi. Mimpi yang―yah―aneh. Sebuah kekuatan jahat yang ingin merenggut Ruby tersebut. Walau ada suatu pantangan yang sulit, akan tetap di lewatinya. Baginya bagaikan mengasah golok hingga tajam.

Desas desus tentang pemilik batu tersebut terus beredar belakangan ini.
Lilith—yang kabarnya adalah The Goddess of Night—disebut sedemikian karena ia hanya keluar pada petang hari, menunggu terbenamnya sang mentari hanya untuk mencari mangsanya. Belakangan ramalan beredar bahwa keturunan terakhir Lilith masih menyembunyikan diri di antara belantara hutan rimba―yang sengaja di tempatkan di dekat pemilik Ruby Abadi tersebut.

Namun, dalam kasus kali ini berbeda. Satu tujuan dan satu hal yang hanya ia butuhkan. Ia tidak lagi mencari anak anak atau satu barang pemuda. Tetapi…

Ruby Abadi.

Satu-satunya yang bisa membuat keabadian untuk dirinya, dan kaumnya.

“Chanyeol-ah, kau tunggu disini ya. Aku masuk dulu.”
Jiyeon pergi meninggalkan Chanyeol yang sedang terpaku memandangi sebuah bangunan aneh—seperti sebuah tempat tinggal, namun terbuat dari bebatuan. Disanalah ia berdiri sekarang. Dinding, pintu, bahkan tak segan gerbangnya-pun dari batu. Chanyeol dapat melihat di sekeliling tempat tersebut terdapat pohon-pohon ek yang besar dengan barisan ayunan menyampir di antara dahan-dahannya.

Pikirannya tiba-tiba saja menjelajahi sebuah mesin waktu. Tempat ini persis seperti tempat ia bertemu seorang wanita cantik di dalam mimpinya itu.

Chanyeol tidak terlalu lama menunggu hingga Park Jiyeon datang dan sepertinya sang tuan rumah telah mempersilahkannya masuk ke dalam.

Sementara itu, Yoo Ara sedang terduduk di bawah pohon besar yang menghiasi lataran rumah besar tersebut. Ara cukup terheran dengan kawasan daerah tersebut. Apalagi rumah ini. Pintu depan rumah tersebut pula—apa tujuan memaku ular di depannya. Ia bertanya-tanya.

“Bagaimana kau bisa tahu—” ucapannya terhenti karena ia melihat lentera terayun sendiri di ujung rumah itu.
“Bagaimana kau bisa tahu namaku?” lanjutnya. Matanya melihat kepada pemuda jangkung di sebelahnya yang sampai sekarang ia belum tahu namanya. Pemuda ini benar-benar menarik—menurutnya. Wajahnya dipenuhi dengan hal-hal yang menariknya untuk selalu ingin bertanya.

“Ya. Sebenarnya aku telah lama mengirim seseorang untuk memata-mataimu sejak lama.” jawab pemuda tersebut. Suaranya berat. “Namaku Kris.” ia mengulurkan tangannya.

“Yoo Ara.” Menjabat tangan Kris. “Ya, tentu saja kau sudah tahu. Tapi..”
“Kenapa kau mengirim orang untuk memata-mataiku?”
Kris berdiri dan membenarkan krah bajunya. “Ikut aku”

Pemuda bernama Kris itu berjalan pelan sementara Ara mengekor di belakangnya. Ia berjalan menuju pintu yang ada ular matinya. Kemudian ia membuka pintunya—dan masuk dengan langkah yang pelan dengan berusaha untuk tidak meninggalkan jejak.

“Apa harus kau bersikap seperti itu?” tanya Ara berbisik. Ia refleks dengan keadaan—karena Kris bersikap seperti tidak ingin ada yang mengetahui kalau seseorang telah masuk diam-diam. “Bukankah ini rumahmu?”

“Diamlah Yoo Ara.”
“Kau hanya perlu mengikutiku. Utusan Lilith bisa saja memasang alat penyadap disini. Jika ada yang melihatmu—kecuali penghuni tetap rumah ini, itu artinya—”

“Kris Hyung!” belum selesai berbicara, seseorang memotongnya. Ia datang menghampiri Kris dan Ara yang aksi endap-mengendapnya telah terhenti. Ara mengernyitkan dahinya mendengar nama Lilith dan utusannya yang tentu tidak ia kenal dan masih banyak pertanyaan tertinggal di benaknya.
“Siapa dia?” lelaki itu melirik Ara heran. Belum pernah Kris membawa satu barang-pun perempuan ke rumah mereka berdua. “Sejak kapan kau—”

“Sudahlah Baekhyun. Nanti saja kau kuberitahu. Sekarang biarkan dia beristirahat.” Kris menjawab. Ia mengisyaratkan pemuda yang bernama Baekhyun itu untuk diam sejenak. Ia tidak ingin membiarkan gadis ini merasa tidak diperlakukan dengan—setidaknya sedikit baik. “Sekarang aku akan mengantar dia ke kamar.”

“Baiklah Hyung. Semoga mimpi buruk. Aku juga akan pergi tidur.” kata Baekhyun. Ia berlalu meninggalkan Kris dan Ara. Kemudian dengan sekali tepukan tangan. Semua lampu di rumah itu mati. Gadis itu—yang baru saja memasuki rumah tersebut pada pertama kalinya terheran-heran. Ia baru menyadari tak ada satu-pun bola lampu pada langit-langit rumah tersebut. Lalu.. bagaimana bisa ada penerangan—bahkan penerangan yang sangat terang di setiap sudut ruangan rumah itu.

Sementara itu di sisi lain, kedua bocah polos ini salah satunya sedang mengetuk-ngetukkan senter di tangannya dan berusaha membuatnya menyala dengan kelakuan bodohnya. Satunya lagi hanya memperhatikan dengan seksama temannya bekerja. Dia mengawasi, berusaha tidak menunjukkan kekhawatiran di wajahnya. Namun toh dia khawatir juga―karena jalanan gelap sekali dan banyak kabut menyelimuti tubuhnya―membuat ia agak susah melihat.

Eottae? Coba kau lepas baterainya, Sehun-ah.” Tanyanya―mencoba sok pintar.
“Kita tidak akan menemukan Chanyeol Hyung kalau seperti ini. Handphone-ku tak ada sinyal.” Tambahnya.

Sehun mengacak-acak rambutnya geram. Ia kemudian menyerahkan baterai tersebut kepada pemuda yang satunya yang tak lain adalah Jongin si ‘Kulit Hitam’―jika Chanyeol yang memanggilnya. Demikian Sehun sudah menyiratkan bahwa masalahnya sendiri sudah banyak―terlihat dari wajahnya yang pokerface seperti seseorang yang tak punya harapan, dan ia berharap tidak perlu ditambahi masalah senter sialan tersebut.

Jongin mengernyitkan dahinya. Ia terlihat sudah menyerah. “Tak ada-kah satu senter lagi?”
“Kuharap ada satu lagi di dalam tas-mu.” Lanjutnya.

Sehun segera merogoh tasnya. Ia mengaduk-aduk semua isinya dan membuatnya menjadi berantakan. Dengan ekspresi terkejut yang aneh, dia melompat-lompat sedikit, tersenyum berpuas diri ke arah si ‘Kulit Hitam’ dengan senangnya.
“Ternyata ada satu lagi. Kita selamat.”

Jongin hanya tersenyum misterius tanpa sepengetahuan sahabatnya. Kemudian dia tak ingin membuat sahabatnya penasaran, mereka meneruskan perjalanan mencari Chanyeol.

Ara mengerjap-ngerjapkan matanya. Rasanya sulit membiarkan mata mungilnya tertutup dengan sendirinya hingga mencapai mimpi indahnya. Ia tak bisa tidur malam itu hingga kemudian kabut-kabut aneh memasuki ruangan, kendati lampu di kamarnya mati dan kabutnya tak begitu terlihat namun ia merasa cukup terganggu.

Tak tahan dengan keadaan itu, ia bangun dan pergi keluar dengan langkah yang pelan―tak ingin Kris menanggapi perasaan ketidak-enakannya. Namun keputusannya untuk bangun dan keluar adalah keputusan yang salah karena ternyata Kris sedang terjaga di sebuah ruangan alih-alih Ara sedang mengendap-endap menerobos sebuah pintu yang ternyata pintu tersebut langsung menuju kepada ruangan dimana Kris sedang terduduk membaca sebuah bahan bacaan yang sepertinya adalah surat kabar mingguan.

Ara terdiam di tempat―malu. Pipinya memerah namun tak begitu terlihat karena terhalang cahaya yang redup disana. Kris menghadapkan kursinya kearah perapian hanya untuk membaca surat kabar mingguannya. Tak ada lampu menyala, hanya perapian pualam indah yang berusaha memancarkan cahayanya ke seluruh ruangan.
“Tak bisa tidur, Yoo Ara?” Tanya Kris yang masih membaca surat kabarnya tanpa melihat Ara yang hanya terdiam membisu karena ia sangat merasa enggan untuk berbicara.
“Duduklah.” Kris mengisyaratkan Ara untuk duduk di kursi di depannya.

Ara melangkahkan kakinya ragu, namun dengan pasti ia duduk di depan pemuda jangkung itu pada akhirnya. Untuk beberapa saat, mereka saling berdiam diri. Kendati merasa sedikit tidak nyaman, Ara tetap diam seakan tak berani membuka pembicaraan alih-alih Kris masih membaca surat kabarnya.

Ara menghela napas pelan sambil sesekali mencuri pandang kearah Kris yang tak henti-hentinya membaca lalu menyenderkan punggungnya di bantalan sofa panjang yang berada dekat dengan perapian.
Kris tak menyelesaikan membacanya, ia berpaling pada Ara yang nampaknya mulai bosan sedari tadi hanya menunggu Kris yang terbenam di dunianya sendiri. Ia menatap bagian leher Ara dengan seksama dan membuat Ara sedikit risih.

“A.. aku.. teman temanku.. anu maksudku.. aku disini tak bisa tidur sementara teman-temanku kedinginan diluar sana.. sedang mencari Chanyeol.” Ara mencoba membuka mulutnya―mencegah apa yang ia pikirkan bahwa Kris akan berbuat macam-macam.

“Maksudmu, kau datang kesini bersama teman-temanmu?” Tanya Kris sedikit terkejut.

Ara sepertinya lebih terkejut dengan pertanyaan Kris. Ia mengangguk. “Aku kesini bersama teman-temanku.. tapi temannku, Chanyeol, ia tadi pergi bersama―seseorang―tapi ia tak juga kembali. Aku.. khawatir.”

“Apa kau punya kalung? Atau semacamnya dengan rubi atau batu atau semacamnya?” tanya Kris. Ia terlihat lebih serius kali ini.

Ara mengangguk―mengerti bahwa ternyata sedari tadi Kris memperhatikannya mencari kalung atau semacamnya. “Yaa, pemberian ibuku. Rubi berwarna merah jambu. Tapi sekarang rubi itu berada pada Chanyeol.” Jawabnya. Ia mengatakan dengan jujur karena Chanyeol bilang ia tertarik dengan rubi itu―dan kebetulan Ara meminjam salah satu patung koleksi Chanyeol yang terbuat dari kaca.

Kris segera mengeluarkan ponselnya. Ia membuka buku kontaknya, menekan satu kontak dengan nama “KAI” di ponselnya, kemudian menekan tombol telepon. Dia agak menunggu lama, teleponnya terputus-putus tetapi ia tidak menyerah dan terus menghubungi pria itu.

Kris : Halo? Kai? Eodie?

Kai : Hyung, aku masih… di tengah hutan. Tolonglah, disini banyak kabut. Sulit untuk bernafas.

Kris : Kau bersama siapa sekarang? Kenapa sulit sekali ku hubungi?

Kai : Aku dengan temanku, Sehun-ah. Ayolah. Kami datang ya. Ya begitu lah, sinyalnya limit sekali disini.

Kris : Ya! Tunggu, aku perlu sesuatu. Kau perlu sesuatu untuk dicari

Kai : Ah? Apa yang kau katakan? Aku tidak mendengarnya. Sudahlah ini sudah dekat dengan rumahmu. Sudahlah aku datang. Dah!

Lalu telepon mati dengan sendirinya dari sebrang sana membuat Kris geram. Ia mendengus sebal dan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
“Aish dasar hitam.” Umpat Kris dengan nada sedikit mengejek kulit Kai yang memang hitam.

“Sebenarnya apa yang diinginkan Lilith?” tanya Ara.

“Sebenarnya bukan Lilith, tapi keturunan terakhir Lilith. Ia menginginkan Ruby itu yang ada pada Chanyeol. Karena jika ia memilikinya, hidupnya akan abadi. Tapi, ia akan mengubah seluruh negeri menjadi hutan belantara dan sungai buaya dimana-mana dengan alas an yang aku tida ketahui kepastiannya.

Ara terdiam sejenak.

Disisi lain, Soojung dan Luhan sedang saling berdebat dengan tak henti-hentinya. Sedari pertama kenal, mereka memang tak pernah akur satu sama lain. Dan sekarang mereka sedang memperebutkan senter di antara pepohonan dan keheningannya mereka cukup meramaikan suasana.

Sunbae! Aku saja yang membawanya.” Pinta Soojung.

Andwae, aku saja Soojung-ah. Sudah kau perhatikan jalan saja.”

SRAK SRAK

Sebuah suara membuat mereka berhenti berdebat. Soojung pergi ke belakang Luhan dan tanpa sadar menggenggam erat lengan Luhan sampai lupa bahwa tadi mereka sedang berdebat memperebutkan senter.

Sunbae.. itu apa?” tanya Soojung―mengawasi. Ia memperhatikan sekitar yang begitu gelap dan Luhan menyoroti pepohonan yang tinggi yang mengelilingi mereka berdua.

Mollayo.. sudahlah. Kita berjalan saja, kau takut?” tanya Luhan terkekeh pelan menyadari Soojung menggenggam erat lengannya. Soojung mendengus sebal seraya melepas genggaman tangannya.
Aniyo! Untuk apa takut. Itu hanya sebuah suara.” Jawabnya gengsi.

SRAK SRAK

Suara itu datang lagi dan Soojung kembali menyambar lengan Luhan sebagai sasaran. Ia sedikit terkejut dan benar-benar takut sekarang.
Sunbae, cepat sedikit jalannya!” rengeknya. Ia menarik Luhan ragu―antara takut akan ada yang lewat di depannya dan ingin cepat-cepat pergi akhirnya ia malah mengekor di belakang Luhan.

SRAK SRAK

Suara itu lagi. Kemudian seekor musang berlari melangkahi kaki Soojung diiringi sebuah teriakkan meriah dari mulut Soojung.
SUNBAE! Tolong aku!” Ia melompat-lompat kecil―masih menggenggam erat lengan Luhan dan berhasil membuat tawa Luhan pecah. Tak tahan akan keadaan, Luhan masih tertawa seraya memegangi perutnya.

Soojung terdiam dan menatap Luhan galak. “Ya! Kau jahat sekali menertawaiku yang sedang tersiksa.” Protesnya.
Mianhae Soojung-ah. Itu hanya musang, ayolah jangan ngambek.” Luhan mengusap kepala Soojung dan mengacak rambutnya.

Soojung langsung membisu. Ia tak terbiasa dengan perlakuan Luhan yang seperti itu kepadanya―apalagi sekarang mereka hanya berdua.
“Tak tahu. Jangan buat rambutku berantakan Sunbae.. ish” gerutunya sok ngambek―ia gengsi untuk bersikap datar kepada Luhan.

“Soojung-ah! Luhan Sunbae!” seru sebuah suara lalu sang pemilik suara tersebut menghampiri Luhan dan Soojung yang sudah berdiri menunggu siapa yang datang―karena penglihatan agak terhalang oleh kabut.
“Ayo ikut kami. Kalian pasti lelah mencari Chanyeol Sunbae, kan?” kata orang itu, yang ternyata mereka dua orang yaitu Sehun dan Jongin. “Jongin bilang, dia akan mengajak kita ke rumah temannya di dekat sini. Aku tidak tahan dengan kabutnya.”

Soojung dan Luhan langsung sumringah mendengarnya.
“Tapi.. bagaimana dengan Chanyeol Sunbae?” tanya Soojung sedikit khawatir.

Sehun hanya melirik Jongin, lalu menyikutnya. Mengisyaratkan bahwa ia tak-tahu-harus-menjawab-apa dan sedikit mengancam Jongin-harus-menjawabnya.
“Ah.. masalah itu, nanti aku akan mencarinya dengan―” ia berhenti sebentar―sedikit berpikir.
“Dengan temanku itu.. haha” lanjutnya. Lalu mereka berempat-pun melanjutkan perjalanan ke rumah teman Jongin.

Seperti yang Ara alami, mereka menemukan sebuah bangunan seperti rumah yang terhalang oleh semak dan batang pohon yang campur aduk. Namun bedanya, mereka seperti berjalan di sebuah jalan pedesaan yang diapit pagar tanaman tinggi dan lebat, di bawah langit malam yang gelap berkabut dingin, mereka berusaha menahannya dan menghampiri rumah itu―yang mereka yakin adalah milik teman Jongin.

Dari kejauhan, mereka bisa melihat telah ada yang menyambut mereka. Dua orang―seorang lelaki jangkung dan seorang perempuan berambut panjang di sebelahnya. Tapi Soojung, Sehun dan Luhan terkejut melihat siluet tubuh perempuan itu―yang berada di samping pemuda jangkung itu. Mereka seperti mengenalnya, sedangkan Jongin hanya tersenyum seraya menuntun mereka berjalan menghampiri sang penyambut.

Soojung terdiam sejenak dan semua menoleh ke-arahnya karena ia berhenti berjalan. Namun tak lama setelah itu senyumnya mengembang melihat salah satu penyambutnya―yang merupakan perempuan.

“Ara Eonnie!” serunya riang dan mendahului teman-temannya menghampiri Ara seraya memeluknya bagaikan orang yang rindu tidak bertemu selama beberapa tahun.

Karena tak tahan mengobrol di depan dengan hawa dingin yang tak keruan, akhirnya mereka masuk ke dalam.
Mereka sekarang terduduk di sebuah ruangan―yang dengan sebuah perapian besar penghangat ruangan sekaligus penerang ruangan.

“Jadi maksudmu.. Kai yang kau telepon tadi itu.. Jongin?” tanya Ara terkejut.

Kris tertawa. Kemudian Jongin berpose sok tak-bersalah. “Hehehe, ya begitulah. Sehun tak tahu kalau au punya dua handphone.” Katanya melirik Sehun. Sehun sudah akan berkata sesuatu namun Jongin tak mengijinkannya.
“Oh iya.. soal Chanyeol Sunbae, bagaimana, Hyung?” kemudian semuanya hening dan sok berpikir.

“Ah… kalian istirahat saja malam ini. Kasihan Ara menunggu kalian dan tidak tidur semalaman. Lagipula, sebentar lagi tengah malam. Aku sudah mempersiapkan tempat tidurnya.” Kata Kris. “Tidak apa-apa kan? Chanyeol pasti masih selamat. Aku tau keadaannya.”

Semuanya mengangguk mengerti. Kemudian mereka semua berdiri dan pergi meninggalkan ruangan kecuali Kris dan Kai―atau Jongin.
Kai berkeliling ruangan itu dan meraba-raba barang-barang di ruangan itu seakan dia sangat rindu dengan penataan rumah itu.

“Rindu sekali dengan tempat ini. Bagaimana.. Baekhyun Sunbae? Dan.. Eunjung?” tanya ia lambat-lambat. “Apakah ia masih tertidur setelah ribuan tahun belakangan ini? Aku sangat berharap ke-ikutsertaan Ara Noona.”

Kris menghela napasnya. Ia mencari-cari rincian kejadian mengerikan ribuan tahun sebelumnya, ketika sebuah kekuatan menyebabkan Ratu mereka, Eunjung, menjadi tertidur ribuan tahun. Mereka merupakan makhluk abadi yang tidak perlu Ruby Abadi seperti Lilith. Sedangkan Lilith yang disebut-sebut itu adalah merupakan makhluk seperti siluman―atau demon yang terkenal dari zaman dahulu sampai sekarang.
Lilith adalah wanita Mesopotamia, demon berelemen angin dan badai. Banyak isu bahwa Lilith adalah istri pertama Adam. Ia mempunyai bentuk tubuh bagian atas yang adalah sebagai manusia dan bagian bawahnya ular.

Lilith dikenal pada zaman Israel kuno bertempat di padang pasir, dikenal sebagai Dewi Malam atau The Goddess of Night―ia juga merupakan dewi dari segala demon dan juga ketua dari sebuah organisasi para demon yang tersebut sebagai Demontion Organization.

Ruby yang berada pada tangan Ara adalah Ruby terakhir yang tumbuh di pohon Ruby kerajaan dibawah pimpinan Eunjung. Jika Ruby tersebut tak ada, makan Kota Merope yang sekarang telah menjadi hutan belantara, tak bisa kembali seperti semula. Ruby terakhir itu memberitahu semua kebenaran di dunia ini dan member keabadian yang paling abadi.

“Yoo Ara memang ada disini sekarang dan sepertinya ia berada pada pihak kita. Tapi..Ruby itu ada pada Chanyeol, Kai..” jawab Kris. “Jika Ratu tak bangun juga―”

“Manusia-manusia sekarang-pun terancam. Ia bisa saja menyebarkan wabah-wabahnya seperti dulu. Ia bisa merubah kota ini menjadi hutan rimba seperti ini..” timpal Kai. “Tak bisakah kita bangunkan Baekhyun Sunbae?”

“Baiklah.” Kris menghela napasnya. Kemudian ia berdiri dan mengeratkan jaketnya. “Ayo kita pergi. Aku akan berbicara kepada Ara, lalu―”
“Memangnya Ara Noona belum tidur?” sela Kai.

Kris tak menjawabnya seraya berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Kai mengekor di belakang Kris. Kemudian Kris berlari menuruni tangga, dua anak tangga sekali lompat dan Kai mengikutinya namun meleset dan akhirnya Kai terjatuh pelan.

Kris berusaha tertawa namun gagal, jadinya dia cuma seperti orang sakit gigi kemudian berlalu. Kai hanya melipat mukanya. Sementara Kris pergi ke kamar Ara, Kai pergi membangunkan Baekhyun yang sedang terlelap dalam mimpinya.

TOK TOK TOK

Kris mencoba memelankan ketukan di pintu kamar Ara karena Ara tidur dengan Soojung dan ia tak ingin Soojung bangun.
Ara yang sedari tadi belum tidur berdiri dan membuka pintunya.

“Oh, Kris. Ada apa?” tanya Ara.
“Kenapa tiba-tiba datang?”

Kris menutup pintu kamar Ara lalu menariknya pergi dari depan kamar itu. Mereka berjalan ke ruangan dimana tadi ia mengobrol dengan Kai.
“Ara. Aku dan Jongin akan pergi mencari Chanyeol” katanya mantap lalu menarik napasnya panjang. “Tapi sebaiknya kau―”

“Aku ikut!” seru Ara terlalu bersemangat. “Aku mohon”

“Tidak bisa. Kau disini saja, ini terlalu berbahaya.” Kris mencoba melarang. “Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Karena aku harus melindungim―lupakan.”

Ara terdiam sejenak mendengar jawaban Kris, pipinya terasa panas.
“Kau.. khawatir padaku?” tanya Ara seraya terkekeh pelan. “Kau ingin melindungiku?”

Kris berdehem. “Tidak. Maksudku―aku harus melindungi kalian. Kalau tidak, kalian akan bernasib sama seperti Ratu kami―yah―kira-kira begitu.”

Ara tersenyum sembunyi mendengarnya dan tak berani menatap Kris.

“Baiklah.” Kata Kris. “Aku pergi ya. Kau jaga dirimu dan teman-temanmu dengan baik.” Ia mengusap kepala Ara lalu pergi meninggalkannya di ruangan itu. Dan Ara terpaksa menunggu dan menanti sebuah jawaban malam itu.

―To Be Continued―

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s