The Plagues of The Mythology [CHAPTER 2]

 

Image
Title

The Plagues of The Mythology

Author
Yeolswipheu

Main Cast
Park Chanyeol
Yoo Ahra
Wu Yifan (Kris)

All Cast
Sandara Park
Jung Soojung
Ham Eunjung
Park Jiyeon
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
Kim Jongin

Genre
Mystery, Friendship, Romance

Length
Chaptered

Note :
Just a story. Enjoy it!~

-o0o-

Ara begitu senang. Mendengar Chanyeol akan ikut dalam rencana petualangannya ini, hatinya berbunga-bunga. Ia berharap akan menjadi hal yang baik nantinya. Kini gerombolan anak anak dari Jung Do Senior High School yang baru saja mengunjungi rumah sunbaenya ini tengah menyusuri jalan setapak dekat rumah Chanyeol. Di perempatan, mereka berpisah jalan dan tidak lupa saling mengucap salam berpisah.

Baru saja mengambil beberapa langkah, Ara teringat bahwa tadi ia meletakkan dompetnya di atas meja di rumah Chanyeol. Alih alih mengambilnya, ia malah ragu untuk kembali. Tapi ia juga tak mau dompetnya hilang. Akhirnya, ia berbalik arah menuju rumah Chanyeol.

“Ara-ya!”
Terlihat seorang pria jangkung berlari menghampirinya.
“Milikmu?” Tanya pria itu, yang tak lain adalah Park Chanyeol.

“Ah ne, itu milikku. Baru saja aku akan mengambilnya. Tapi kau—”
“Dasar ceroboh. Lain kali, jangan lupa ya” ujar Chanyeol. Ia mengembangkan senyumnya dan membuat wajah Ara merona merah.
Begitu akhirnya mereka terlarut dalam sebuah pembicaraan.

“Oh, Ara. Aku membawa buku ini untukmu.” Chanyeol mengeluarkan sebuah buku dari dalam kantung sweater merah yang dikenakannya yang cukup lebar. Sebuah buku yang masih terlihat baru tanpa ada sedikitpun bekas lipatan atau noda menempel. “Ini salah satu koleksi buku mitologi milikku. Kau boleh mengambilnya.”

Ara mengambil buku tersebut dan mebolak balik isinya sekilas. “Maksudmu ini untuk—“ ia terdiam sejenak.
“Untukku?” sambungnya.

Chanyeol mengangguk. “Kurasa kau tertarik dengan hal-hal seperti ini—kalau aku tidak salah tebak” ujarnya mengira ngira tanpa melihat Ara dan tetap berjalan lurus.

Ara bersorak dalam hatinya. Tentu saja Chanyeol benar tentang itu.
“Chanyeol-ah.” Panggilnya. Chanyeol hanya menengok.
“Mmmm—”

“Ya, sebenarnya apa yang mau kau katakan hah? Dasar kau Ara-ya, tidak jelas” canda Chanyeol—lagi lagi memotong saat Ara bicara. “Jangan-jangan, kau salah tingkah karena berhadapan dengan namja tampan sepertiku.”

“Aish yang benar saja. Aku ingin muntah.” Balas Ara. Chanyeol menoyor kepala Ara. “Ish kau ini. Ini kepala!” kata Ara berang. Ia mendengus sebal.

Chanyeol tertawa. “Arraseo. Kuantar kau sampai rumah ya” katanya. Ara mengangguk senang.

-o0o-

Mentari pagi menyeruak masuk melalui jendela jendela kecil di kamar Ara. Mereka membatalkan pergi ke hutan sore kemarin karena teman polos mereka, Sehun, tiba tiba saja demam tinggi. Sebenarnya, mereka berniat pergi dulu dan melarang Sehun untuk ikut namun Sehun ingin sekali ikut dan tidak ingin di tinggal sendirian.

Ara melihat layar handphone-nya pagi itu. Tertera pukul 05.45 am di layarnya yang lebar. Ia segera bangun dan keluar kamarnya. Bau dedaunan pagi yang segar bisa ia rasakan betapa sejuknya setelah organ tubuhnya telah berhenti bekerja dalam beberapa jam dalam semalam.

08.15 am

Ara selesai sarapan pagi. Kemudian ia mendapat kabar dari teman-temannya bahwa demam Sehun sudah turun dan Sehun sudah berlari lari di depan rumahnya pagi tadi. Jadi sepakat ia dan teman temannya akan pergi ke hutan nanti sore. Ara tidak perlu susah payah untuk mengepak barang-barangnya lagi karena kemarin sore sudah ia siapkan.

“Kalian siap?” seru Jongin yang paling bersemangat sore itu.
“Jangan sampai ada yang tertinggal.” Lanjutnya seraya mengecek barang-barangnya sendiri yang sepertinya sudah terjejer rapi di dalam tasnya. Isi tas jongin benar-benar tidak penting—terdapat sangat banyak makanan ringan.

Setelah semua mengecek rapi barang-barangnya, mereka mulai berjalan ke hutan. Perumahan mereka memang dekat dengan hutan. Hanya dengan berjalan kaki beberapa kilometer saja. Tidak heran Chanyeol sering pergi ke hutan untuk berburu. Ia namja yang gemar dengan hewan hewan liar dan langka. Apalagi kalau sudah berurusan dengan sejenis burung liar—naluri lelakinya langsung keluar.

Mereka sudah hampir menempati gerbang masuk hutan—memang tidak dibatasi oleh sebuah pintu gerbang namun hanya sebuah jembatan panjang yang tidak lain adalah jalan masuk menuju hutan tersebut. Baru beberapa langkah kaki, dan mereka masih mengobrol dengan seru tanpa menghiraukan sebuah kegelapan yang tengah datang menyelimuti awan sore itu. Tentu saja, karena hari sudah mulai gelap.

Kabut dingin menekan permukaan baju mereka berenam. Sekarang hening menyergap. Tak ada suara selain desah air dan tak ada tanda-tanda kehidupan kecuali seekor kucing hitam kurus yang menyelinap melalui tepian sungai, dan sekarang mengendus-endus di antara rerumputan tinggi. Mereka sudah melewati jembatan tadi dan sudah memasuki kawasan hutan.
Chanyeol berjalan di depan dengan Luhan. Kemudian Ara dan Soojung—karena mereka perempuan, mereka berjalan di tengah dengan Jongin dan Sehun di paling belakang. Sementara hari sudah petang, Chanyeol mengingatkan mereka, “Nyalakan senter kalian” ujarnya seolah dialah pemimpinnya.

Setelah cukup jauh memasuki hutan, mereka berhenti di dekat sebuah danau. Duduk dan menarik nafas dalam untuk menghilangkan sedikit lelah yang menempel. Lingkungan malam yang sunyi dan air danau yang tenang, dan suara gemerisik jangkrik, membuat hutan menjadi terasa menyeramkan.

“Mari membuat api unggun” usul Soojung.
Semua mengangguk setuju. “Hey kita yang laki laki. Mari mencari kayu.” Ajak Chanyeol. Sehun, Luhan, dan Jongin segera berdiri.

“Aku ikut! Eonnie, kau mau ikut juga?” kata Soojung ikut berdiri.

Ara menggeleng. “Aku menjaga barang-barang kalian saja. Mana mungkin kalian mencari kayu dengan membawa-bawa tas, kan?” jawabnya. Semua mengangguk.

“Tapi kau tidak apa apa, Eonnie?” Tanya Soojung. Sekali lagi Ara mengangguk seraya tersenyum. “Baiklah. Hati-hati Eonnie.”

“Hati-hati Ara-ya. Barangkali ada yang menangis.” Ledek Luhan sambil tertawa.
Soojung memukul pelan punggung Luhan dari belakang. “Ish sunbae diam. Dasar jahil.” Katanya membuat Ara tertawa.
Kemudian mereka meninggalkan Ara yang menjaga barang-barangnya.

Sementara itu di tempat, Ara terduduk tanpa ada yang ia lakukan. Ia tak tahu apa-yang-harus-dilakukannya sementara hutan sangat sunyi dan tidak ada penerangan apapun. Untuk menghilangkan rasa sepi, ia menyalakan handphone-nya.

“Ish. Tidak ada sinyal.” Gerutunya kesal. Jadi, ia mulai berpikir lagi apa yang sebaiknya ia lakukan alih alih teman temannya mencari kayu, dan itu tidak akan berjalan cepat.

SRAK SRAK

Sebuah suara mengagetkan Ara yang sedang terdiam suntuk. Ia mencoba terdiam, mengamati suara tersebut. Dan suara itu kembali datang.

SRAK SRAK

Kini Ara benar-benar merasa takut. Sekelebat bayangan kecil seperti berlari. Dan oh, beruntungnya Ara. Itu hanya seekor tikus besar yang bermain di dalam semak. Tikus itu berlari dan memakan entah apa itu yang ada di depan Ara.

“Ara-ya!”
Ara mendongak mendapati seorang yang jangkung—Park Chanyeol yang kembali tanpa membawa sebatang-pun kayu untuk dibakar.

“Chanyeol-ah?” Tanya Ara heran. Mengapa ia tak kembali dengan teman-temannya. “Apa yang kau lakukan disini? Mana kayu bakarnya?”

Di sisi lain, semuanya sedang berusaha mencari kayu.

“Ya, Chanyeol hyung, apa Ara noona baik-baik saja?” Tanya Sehun kepada Chanyeol yang sedang mengikat kayunya dengan seutas tali yang entah ia dapatkan darimana. “Ia sendirian sedari tadi, apa tidak apa apa?”

Chanyeol mendengus kesal. “Mana aku tahu. Kalau ingin dia baik baik saja, sebaiknya kita bekerja cepat.” Ia kemudian menyangking kayu-kayu tersebut yang terikat tali.
“Arraseo…” jawab semua serempak.

Jika itu benar—bahwa Sehun berbicara dengan Chanyeol. Lalu siapa Chanyeol yang menghampiri Ara.
Mereka berjalan kembali ke danau dengan susah payah seraya membawa kayu-kayu itu. Soojung hanya membawa lima batang kayu karena hanya itu yang bisa ia temukan. Dan ia santai-santai saja. Sedangkan Sehun—yang kerempeng, ia meringis-ringis membawa banyak rangkap kayu.

Chanyeol tampak terkejut. Tangannya lemas dan menjatuhkan kayu kayu bawaannya. Kemudian, ia berlari menuju Ara.
Sungguh aneh, ia baru saja melihat Ara berbicara sendirian. “Kalian sebaiknya cari kayu lagi. Dan tolong benahi kayuku. Aku duluan”
Semuanya terlihat bingung, tapi kembali mencari kayu ke dalam hutan lagi karena mereka memang merasa kayunya belum cukup.

“Ya! Yoo Ara!” seru Chanyeol kepada Ara. Ia menghampiri Ara. “Apa yang kau lakukan?”
Ara terlihat bingung. Baru saja ia berbicara dengan Chanyeol. Tapi bagaimana bisa ada satu Chanyeol lagi menghampirinya. “Kau.. Tapi, baru saja.. kau..” Ara tergagap. “Lupakan saja”

“Tolong..!”

Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memninta tolong. Suaranya parau dan seperti habis menangis.

“Tolong..!”

Tiba-tiba saja seorang perempuan menghampiri mereka. Ia menyeret kaki kanannya yang sepertinya terluka. “Tolong aku..”
“Jiyeon-ah!” pekik Ara bingung mendapati teman sekelasnya tiba-tiba saja sudah berada di hutan. Jiyeon adalah seorang murid baru. Ia pindahan dua minggu lalu. “Ke.. kenapa bisa ada disini?”

Chanyeol curiga. Apa yang sebenarnya terjadi dengan semua ini. Tapi ia merasa sedikit iba karena Joiyeon sepertinya terluka.
“Chanyeol-ah.. tolong aku.” Pinta Jiyeon membuat Chanyeol bingung sekaligus kaget. Chanyeol melirik Ara kemudian menolong Jiyeon. Dirangkulnya Jiyeon, dan ia meninggalkan Ara.

“Aku akan segera kembali. Ara-ya. Kau hati-hati ya” kata Chanyeol.

“Aku harus menyelidiki ini Ara. aku tidak tahu apa itu, tapi ini pasti erat hubungannya denganmu, aku tidak mau sesuatu yang berbahaya terjadi padamu. Dan semoga kau akan baik-baik saja” batin Chanyeol.

Ara tersenyum nanar melihat kedua punggung itu pergi meninggalkannya. “Tidak usah kembali-pun aku akan baik baik saja” batinnya. Saat ini kemarahannya memuncak hanya karena Jiyeon. Namun, maksud Jiyeon apa datang ke hutan malam-malam seperti ini dengan keadaan sudah terluka dan kemudian tanpa menyapanya sama sekali langsung menyambar Chanyeol. “Ada yang tidak beres dengan semua ini”
Ia terduduk menunggu teman-temannya datang.

“Ara Eonnie! Kemana Chanyeol sunbae?” Seru Soojung yang tiba tiba datang dengan yang lainnya. Kemudia Ara menceritakan semuanya bahwa Jiyeon datang dan meminta tolong Chanyeol tanpa alasan yang jelas meski ia juga tahu kalau Jiyeon terluka.

“Aku pikir ini tidak beres.”

“Kita berpencar saja Noona. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Chanyeol hyung.” Kata Sehun. “Aku dengan Jongin deh.”

“Baiklah Soojung, kau dengan Luhan saja. Aku biar mencari sendiri.” Kata Ara mantap. “Aku serius. Aku ke selatan. Kau dan Luhan ke barat. Lalu Jongin, kau dengan Sehun ke timur.”

“Arraseo!” seru mereka serempak lalu berpencar mencari Chanyeol.

Yoo Ara berjalan pelan menyusuri jalanan di hutan malam itu. Ia mengeratkan jaketnya karena udara malam itu sungguh menusuk. Hanya sebuah senter yang ia bawa. Seluruh barang-barang persiapannya ia tinggal di dekat danau. Ia risau, apa yang terjadi dengan Chanyeol. Tapi ia juga sedikit kesal karena perlakuan Chanyeol kepada Jiyeon tadi. Seharusnya tadi ia ungkapkan saja, bahwa ia tidak suka Chanyeol bersikap begitu kepada Jiyeon. Tapi apa daya, semua sudah berlalu.

SRAK SRAK

Ia mendengar suara itu lagi. Dan sekarang ia tidak takut, karena itu pasti hanya binatang malam yang sedang bermain main diantara semak-semak. Sudah cukup jauh ia berjalan, dan ia tak kunjung menemukan Chanyeol juga. Kali ini ia sungguh merasa tertekan dengan keadaan. Ia tidak ingat tujuannya datang kesini untuk apa. Tiba-tiba saja pikirannya menjadi buyar dan tidak keruan.

Ia menghentikan langkahnya. Matanya bisa melihat bangunan besar seperti rumah yang setengah tersembunyi di antara batang-batang pohon yang campur aduk. Bagi Ara, pemilihan lokasi rumah itu aneh sekali—atau kalau tidak, keputusan yang aneh membiarkan pepohonan tumbuh rapat di sekitarnya, memblokir semua cahaya yang masuk. Dia bertanya, apakah rumah itu berpenghuni. Rumah itu terlihat berdebu dan seperti tidak pernah dibersihkan. Dengan pepohonan besar di sekitarnya dengan daun-daun yang gugur dibawahnya masih utuh, rumah itu seperti tak pernah di sentuh sama sekali.

Ia bergerak maju tanpa suara dan berhati-hati. Baru saja ia menyimpulkan bahwa tak mungkin ada orang yang tinggal di situ, salah satu jendelanya menjeblak terbuka dengan bunyi dentang yang keras. Ara memelankan langkahnya, ia memandang pintu depan rumah tersebut. Seseorang memaku ular mati di pintu itu.

“Baiklah, aku mengerti!”
Seorang lelaki jangkung keluar dari rumah tersebut, membanting pintu di belakangnya sehingga ular mati itu berayun memelas. Laki-laki ini sungguh tinggi, namun ia tak lebih tinggi dari pintu depan dengan ular mati itu. Wajahnya tampan dan berkarisma, rambutnya blonde dengan jambul ke kanan atas.

Ara terdiam sejenak memandangi pemuda itu yang nampaknya sedang berang dengan tingkah laku seseorang di dalam rumah besar tersebut. Tapi, menyadari Ara yang berdiri memandanginya, ia segera bertanya, “Yoo Ara?” tanyanya.

Ara membelalak. Ia merasa bingung bercampur kaget. Bagaimana pemuda itu bisa tahu namanya. Siapa pemuda ini sebenarnya.

 

—To Be Continued—

Advertisements

4 thoughts on “The Plagues of The Mythology [CHAPTER 2]

  1. Kamu bilang kamu suka bahasaku? Aku juga suka bahasamu, fernando, keep going, besok kudu ngepost ya xD pasti cowok jangkung itu fanfan, yekan? Hahaha eh btw gimana kalo ffmu ini aku post! Ini bagus seriusan ewhhhh atau kamu daftar di fki atau dmn gitu xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s