The Plagues of The Mythology [CHAPTER 1]

collage_20140511094549803_20140511095502571

Title
The Plagues of The Mythology

Author
Yeolswipheu

Main Cast
Park Chanyeol
Yoo Ahra
Wu Yifan (Kris)

All Cast
Sandara Park
Jung Soojung
Ham Eunjung
Park Jiyeon
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
Kim Jongin

Genre
Mystery, Friendship, Romance

Length
Chaptered

Note :
Just a story. Enjoy it!~

-o0o-

“Pergilah ke hutan besok malam. Dan temui aku.” Sebuah suara mengagetkan seorang gadis yang sedang terduduk di kursi di tengah sebuah ruangan gelap. Hanya ada sebersit cahaya membentuk garis vertikal yang berada di sudut ruangan.
Cahaya itu berasal dari sebuah pintu. Gadis itu ingin sekali meraih gagang pintunya, tetapi tangannya terikat tali.

“Si.. siapa kau?” Tanya gadis itu khawatir.

Suara itu tertawa sinis. “Sudah kubilang kan. Temui aku di hutan, besok. Tetapi, harus pada saat malam yaa.. jangan lupa”
Gadis itu terdiam sejenak.

“Ah.. kau takut?” kata suara itu lagi. “Biar kuperkenalkan diriku.”

Kemudian waktu serasa berhenti, dan ada sepasang tangan dari dalam kegelapan mencoba meraih pundak gadis itu.
Ruangan itu terasa berputar dan menarik gadis itu ke dalam lubang hitam yang begitu dalam.

“Ternyata hanya mimpi.. hhhh” gadis itu, sebut saja Yoo Ara. Ia terbangun dan melihat bahwa jarum jam sudah berada di angka 3 pagi.

“Bermimpi sungguh membuatku lelah” ia berdiri dan pergi ke dapur untuk minum. Ia menghabiskan hampir tiga botol air penuh sekaligus. Ia merasa bermimpi buruk membuatnya lelah, bahkan sekarang setelah ia meminum tigal botol air juga terasa melelahkan karena menahan nafas yang cukup lama. Sehingga tanpa melakukan apapun, setelah itu ia kembali tidur.

Esok paginya sepulang sekolah, Ara dan beberapa temannya, Soojung, Jongin, Luhan, dan Sehun, bermain ke tempat sunbaenimnya, Park Chanyeol. Sunbaenya itu baru saja membeli hewan peliharaan baru yang unik dan langka. Mereka berlima tidak memberitahu Chanyeol terlebih dahulu. Mereka menguntit Chanyeol sepulang sekolah tanpa sepengetahuan Chanyeol sampai ke rumahnya.

Chanyeol berjalan santai sembari bersenandung pelan. Terpasang sepasang headset kecil di kedua lubang telinganya. Nampaknya ia begitu menikmati perjalanan pulangnya itu.

“Ssstt.. kita jalan pelan pelan saja.” Kata Soojung berbisik kepada teman-temannya yang berjalan mengendap di belakangnya.

“Jangan sampai Chanyeol sunbae ta—“ ucapan Soojung terpotong.
Luhan menarik keempat temannya ke dalam gang kecil. “Dia melihat ke belakang. Kita harus bersembunyi.” Bisiknya. Semuanya hanya mengangguk tanda setuju.

Setibanya di depan rumah, Chanyeol berhenti. Ia memandangi sebentar gerbang berwarna putih polos yang menjulang tinggi dan mewah. Sampai akhirnya, gerbang tersebut terbuka dengan sendirinya. Ia mulai melangkahkan kakinya masuk namun terhenti.

“Sunbae, tunggu!” teriak Sehun, Jongin, dan Soojung.

Chanyeol menolehkan kepalanya mengarah kepada siapa yang memanggilnya. Ia tak tahu sejak kapan mereka berada disana di depan rumahnya sementara ia saja baru sampai. “Ya! Sejak kapan kalian disana? Jangan bilang kalian mengikutiku? Eoh? Rupanya kalian ikut juga Yoo Ara? Dan kau, si manusia cina Xi Luhan?” Tanyanya intens. Ara dan Luhan adalah teman sekelas Chanyeol sedangkan Soojung, Sehun, dan Jongin adalah adik kelasnya.

Mereka mulai merayu rayu dan memuji Chanyeol untuk mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah besarnya. Chanyeol sempat merasa kesal karena ia diikuti sampai tepat di depan rumahnya, namun Luhan mencoba meyakinkannya “Ayo Channie, atau mau kuberitahu semua tentang perasaanmu kepada—”

Ara langsung memasang telinga dengan seksama. Dia sudah lama menyimpan perasaan dengan Chanyeol namun belum sempat tersampaikan kepada si pemilik hati itu. Mendengar Luhan berbicara tentang perasaan Chanyeol, tentu Ara tidak akan melewatkannya.

“Ish, kau diam.” Chanyeol berang. “Baiklah, kalian masuk dan ikuti aku. Kalau tidak, kalian bisa tersesat di rumahku yang besar ini..” ia mulai berjalan tegak dan agak terkesan menyombongkan diri.

Luhan terkekeh. “Rupanya rencanaku berhasil” gumamnya pelan. Dia salah satu orang tercerdas di kelasnya. Tetapi ia tidak biasa nongkrong atau bermain dengan teman teman sekelasnya karena teman  teman sekelasnya terlalu heboh. Hanya Ara dan Chanyeol—yang termasuk teman sekelasnya—yang biasa bermain dengannya, lalu ditambah dengan adik-adik kelasnya yang dianggap lucu olehnya.

“Ingat ya, ikuti aku. Jangan menjelajah ke dalam rumahku sembarangan atau kalian akan ter—” katanya lagi—meyakinkan—atau sok pamer.

“Tersesat” tembak Sehun. “Dasar hyung berkepala besar” ejek Sehun pelan supaya Chanyeol tidak dengar.

“Telinganya pun besar.” Tambah Jongin dengan suara pelan juga.

“Ckck. Kenapa eonni bisa suka dengan namja seperti dia” bisik Soojung kepada Ara. Sedangkan Ara yang kaget sekaligus bingung hanya menggelengkan kepalanya.

Sementara Chanyeol menyiapkan sesuatu, mereka dipersilahkan duduk di ruang tamunya yang sungguh besar. Berbagai lukisan yang terlihat mahal, terjejer rapi dengan penataan yang pas di tembok rumahnya yang luas dan tinggi. Lukisan tersebut terlihat sangat bersih dan permukaannya mengkilap seperti dibersihkan setiap jam. Dan hampir di setiap sudut ruangan terdapat patung-patung antik yang terlihat asing di mata anak anak ini. Lantainya bersih seperti disapu setiap hari kemudian tidak lupa selalu di pel. Selain itu, jendela di rumah Chanyeol besar dan panjang. Sehingga banyak cahaya masuk ke dalam rumah.

“Woah.. ini apa ya” Jongin mendekati sebuah patung seperti burung elang—namun juga seperti singa yang berdiri diatas meja di sudut ruangan. Mungkin sebagian orang tak bisa mendeskripsikannya. Ia mengelus patung itu yang ukurannya sekitar sebesar pohon bonsai. Patung yang sepertinya terbuat dari kayu.
Semuanya mengerubungi Jongin si manusia penasaran itu. Dan tidak lain, semuanya berdecak kagum.

“Orang tuaku tak pernah mengoleksi patung atau lukisan mahal. Yang ia koleksi hanyalah pohon pohon ubi di belakang rumah. Ckckck” decak Sehun kagum. “Apa kalian tau, ini patung apa?”

Semuanya menggeleng. Mereka sibuk memperdebatkan sebenarnya patung apa itu alih alih sang pemilik rumah datang. “Ehem.” Suara besarnya mengagetkan semuanya. Dan dengan segera, mereka duduk kembali di sofa besar keluarga Chanyeol itu.
“Itu patung Grifiin.” Kata Chanyeol. “Mirip dengan ini kan?” ia mengeluarkan sesuatu dari belakang punggungnya. Sebuah kotak kaca berukuran sedang yang di dalamnya terdapat seekor binatang yang—mereka belum memperhatikan dengan seksama.

Chanyeol meletakkannya di tengah meja agar manusia manusia penasaran itu dapat melihatnya lalu menebaknya sesuka hati.
Binatang itu persis dengan patung di sudut ruang tamu Chanyeol. Bentuk yang indah. Kepala dan dua kaki depannya berwujud elang dan dua kaki di belakangnya adalah kaki singa lengkap dengan ekornya yang menjulur indah ke belakang. Namun, binatang itu kecil dan sepertinya masih belum berumur lama.

“Eoh, Hyung! Ini apa? Aku tak pernah melihat ini sebelumnya.” Ujar Jongin yang paling antusias. Ia memperhatikan binatang asing yang sedang berusaha mencakar kandang kaca itu. Untuk Jongin yang suka barang antik dan unik, ini sungguh menarik. Ia mengusap rambutnya. “Wah Hyung, aku pesan satu. Tapi, gratis ya hehehe”

Chanyeol menoyor kepala Jongin. “Enak saja. Aku mendapatkan ini saja susah sekali.” Katanya. Chanyeol mulai menceritakan bagaimana ia mendapatkan binatang aneh itu. Dan semuanya mendengarkan dengan seksama. “Kemarin sore, aku pergi ke hutan—err sebenarnya untuk berburu angsa. Aku ingin sekali memelihara angsa. Jadi, setiap aku bangun pagi, aku akan menyiapkan sendiri makanannya dan bermain dengannya di taman belakangku. Hah.. pasti enak sekali.”

Semuanya menatap galak. “Ayolah, sebenarnya kau sedang menceritakan angsa atau hewan tangkapanmu itu yang bernama Griffin atau apalah?” rutuk Ara. Semua mengangguk setuju.

Chanyeol nyengir seperti tak berdosa. “Baiklah, jadi sebenarnya aku hampir frustasi karena tak ada satu pun angsa sore itu. Tapi, saat kuputuskan untuk pulang, kutemukan hewan aneh ini diatas pohon. Dan sepertinya, ini adalah seekor Griffin. Tapi aku heran, ini sudah tahun 2014 lalu kenapa masih ada mahkluk mitologi aneh seperti ini”

“Mitologi?” Tanya Ara. Ia langsung teringat dengan makhluk aneh yang ada di mimpinya semalam.

Chanyeol mengangguk mantap. “Makhluk makhluk mitologi. Aku punya banyak buku tentang mitologi mitologi. Kau mau meminjamnya?” tawar Chanyeol membuat Ara mengangguk semangat.

Luhan tersenyum. “Channie, keluarkan binatang itu. Aku ingin memegangnya.” Katanya. Chanyeol mengangguk dan mengeluarkannya. “Oh, namanya siapa?”

“Aku belum memikirkannya.” Kata Chanyeol. Ia memberikan binatang itu kepada Luhan. Dengan semangat Luhan mengambilnya lalu memainkannya. Melihat Luhan yang begitu asik dengan mainan barunya itu, semuanya terlihat iri dan mulai memperebutkannya kecuali Sehun. Nampaknya ia terlihat sedikit takut.

Luhan tersenyum jahil lagi. Semuanya yang memperhatikan Luhan tahu, kalau ia pasti ada niat tidak baik. Namun tiba tiba Ara teringat sesuatu, “Teman teman!” serunya membuat semua yang berebut menengok kearah Ara dengan tatapan penasaran dan bertanya.

“Iya unnie, ada apa?” Tanya Soojung.
Ara terdiam sejenak, mencoba memikirkan bagaimana ia memberitahu temannya tentang mimpinya yang menurutnya benar benar suatu pesan untuknya. Namun ia takut teman temannya akan mengoloknya gila atau apalah—sesuatu yang berhubungan dengan gangguan jiwa pastinya.

“Kalian.. err besok kan mulai liburan, err maukah kalian menemaniku ke hutan? Nanti sore?” Tanya Ara.
Semuanya bersorak riang. “Tentu saja noona, aku mau ikut!” seru Jongin dan Sehun bersamaan. “Aku tak ada jadwal, aku free.” Kata Jongin. Diikuti dengan semuanya.

Chanyeol terdiam. “Bicara tentang hutan, aku jadi teringat mimpiku semalam.” Katanya dengan nada yang sok dramatis. Lalu Chanyeol segera melanjutkan ceritanya. “Aku bertemu dengan seorang wanita di hutan. Dia cantik sekali.”

Semuanya memasang muka masam. “Hey hyung, kalau cerita yang benar. Hanya mimpi seperti itu saja kau beritahu.” Protes Sehun.

“Aku belum selesai.” Ujar Chanyeol. “Mimpi itu terasa sangat nyata. Noona itu memintaku datang sore ini. Dan… aku penasaran.”

Ara terdiam. Apakah wanita itu sama dengan yang ada di mimpinya? Bagaimana jika Chanyeol akan menjadi korban. Ara tida akan membiarkannya.

Semua hening..

“Jadi, Ara.. aku ikut”

—To Be Continued—

Advertisements

2 thoughts on “The Plagues of The Mythology [CHAPTER 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s